PERGURUAN PENCAK SILAT CINGKRIK CEMPAKA

PERGURUAN PENCAK SILAT CINGKRIK CEMPAKA
PENERIMAAN ANGGOTA BARU

Senin, 05 Maret 2012

TABLOID "SANG PENCERAH UMMAT" EDISI KE - 1

TABLOID  "SANG PENCERAH UMMAT"
SANGGAR  UMMAT 
KOTA TANGERANG SELATAN - BANTEN
Terbit : 5 Maret - 15 Maret 2012
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(SEJARAH SANGGAR UMMAT)

I).  JALUR  SUTERA  SANGGAR  UMMAT

Kita semua sadar bahwa sebagai makhluk budaya, setiap saat kita dihadapkan dengan    formulasi ; rasa, karsa, dan cipta. Yang kemudian melahirkan kebudayaan, dalam situasi yang prulastik dan kompleks seperti sekarang ini, tidak seorangpun diantara kita yang bisa luput dari pergesekan dan pergumulan dengan produk-produk kebudayaan. Kualitas hidup kita sangat dipengaruhi oleh kualitas kebudayaan yang kita konsumsi, tinggi ataupun rendahnya budi pekerti kita sebagai manusia, akan terlihat pada budaya yang kita ciptakan atau hasilkan. Beranjak dari sinilah, maka setiap produk kebudayaan haruslah bertumpu pada suatu niat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan manusia. Demikian pula dengan produk kesenian, dia haruslah mampu memperhalus budi pekerti manusia, hingga mampu menangkap getar dan suara kebenaran yang sejati.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, perkembangan kesenianpun tampak semakin canggih dan kaya akan kreasi. Akan tetapi dipihak lain, kecanggihannya kurang terimbangi dengan nilai-nilai yang mampu membawa kearah peningkatan mutu kehidupan manusia. Sangat memprihatinkan pulabahwa produk kesenian yang masuk dan menghibur masyarakat kita adalah produk kesenian yang justru tampak akan membawa malapetaka dengan racun-racun yang ditebarkannya.

Islam ajaran yang paling kita yakini kebenarannya, telah mengajarkan pandangan-pandangan yang integral, utuh dan holistik dalam segala hal. Segala urusan hidup ini bukan saja dikaitkan dengan kepentingan kemasyarakatan yang bersifat horizontal, akan tetapi juga dikaitkan dengan komitmen vertikal, yakni komitmen ke-Illahian.

Berangkat dari ajaran itulah, beberapa sosok orang diantara para Remaja Masjid Ar-Rahmah Rempoa – Ciputat Timur, mencoba menghimpun diri memasuki dunia kesenian yang selama ini masih menjadi misteri bagi sebagian besar ummat Islam, dengan mengibarkan bendera Teater Bedug – IRMA, yang dalam perkembangannya terbentuk SANGGAR UMMAT. Mereka berusaha tanpa menentukan target sebagaimana proyek pembangunan lima tahun.

Mereka tidak pernah memimpikan bila seusai pementasan seni ada orang (penonton datang berduyun-duyun minta di-Islamkan, Tidak !!, sekali lagi tidak !!. Yang mereka inginkan hanyalah munculnya kesadaran ummat Islam akan pentingnya kesenian dalam hidup ini. Artinya, apabila ummat Islam sudah menyadari hal itu, maka dimungkinkan atmosfir kesenian terwarnai oleh Islam, berisi tentang kebenaran Illahiyah. Tentu saja ini harus dimulai dan didukung oleh Lembaga-Lembaga Dakwah, Organisasi-Organisasi Kemasyarakatan Islam, terutama yang ada di lingkungan kita sendiri. Untuk itu sebagai langkah awal diperlukan intensitas pementasan sebagaimana telah dilakukan selama ini di beberapa tempat. Alhamdulillah, kampanye mereka tampaknya tidak sia-sia. Banyak pihak yang telah membantu usaha ini, baik menjadi impressario, memberikan masukan-masukan, atau turut terlibat langsung dalam setiap acara pementasan, sungguh alhamdulillah, benar-benar sukses dan berhasil selalu pementasan, alhamdulillahirobbil a’lamiin....... (Di Tulis Oleh : Sholihin Ibnu Syafe’i)

II).  PROFILE  SANGGAR  UMMAT

Sudah menjadi keharusan bahwa suatu organisasi haruslah mempunyai program-program kerja yang jelas, program yang terencana. Baik itu jangka pendek maupun jangka panjang, untuk melaksanakan program-program  tersebut haruslah dibentuk pula perangkat organisasi yang berupa susunan kepengurusan yang terdiri dari : Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Seksi-seksi.

Dengan demikian, organisasi tersebut akan dapat berjalan dengan baik, tentunya dengan manajemen  profesional yang penuh aktifitas dan penuh  kreatifitas, dalam pelaksanaan program-program selalu terkoordinasi dan terkonsolidasi. Bagaimana dengan SANGGAR UMMAT Remaja Masjid Ar-Rahmah?, inilah yang perlu disampaikan disini. Kelemahan yang paling mendasar yang ada pada Teater Bedug atau sekarang ini SANGGAR UMMAT Remaja Masjid Ar-Rahmah, adalah tidak adanya manajemen yang baik dan profesional.

Sejak kelahirannya atau terbentuknya pada tanggal 10 Maret 1996 (UMMAT – 1 Muharram 1418 H), yang hingga sekarang ini memasuki akhir tahun 1999, belum berhasil menyusun organisasi yang jelas dengan program-program yang jelas dan tata organisasi yang mantap. Dapat dikatakan bahwa SANGGAR UMMAT sebagai suatu organisasi belum mampu memenuhi persyaratan.

Program Pertama Teater Bedug – IRMA ialah mementaskan :
Ø Parlemen Setan ; Karya : Drs. Budi M. Thamrind sekaligus penulis naskah itu sendiri, dengan ide cerita “Puisi Parlemen Setan” Karya : Muhammad Iqbal.
Itupun sebenarnya bukan program yang terencana secara matang, tetapi hanyalah untuk sekedar mengisi acara pentas seni pada kegiatan Tahun Baru hijriyah 1416 Ikatan Remaja Masjid Ar-Rahmah. Jadi jelaslah saat itu belum dibayangkan akan ada sub organisasi yang bernama SANGGAR UMMAT. Nama ini baru muncul dua tahun kemudian setelah banyak orang yang menyatakan dukungan dengan adanya pementasan-pementasan Teater Bedug di beberapa tempat. Dari sinilah timbul keinginan untuk mendirikan SANGGAR UMMAT Kepanjangan dari “Meningkatkan Mutu Akhlaq dan Taqwa”,  sebagai sebuah organisasi yang lebih mapan dan sekupnya lebih luas dari sekedar seni peran (Teater Bedug).

Tiga Tahun perjalanan Teater Bedug dan satu Tahun Sanggar UMMAT telah mementaskan beberapa Naskah, antara lain :
Ø Opera Anak Jalanan I dan II, Naskah dan Sutradara : Drs. Budi M. Thamrind, dipentaskan di halaman Masjid Ar-Rahmah dan SMP Muhammadiyah 17 Ciputat (Tanggal, 29 November 1996).
Ø Keluarga Lenong, adaptasi naskah : Rifki firmansyah, Sutradara : Aprianto, ES.                                                ( Tanggal, 8 Agustus 1997).
Ø Opera Pitutur, Naskah dan Sutradara : Sholihin Ibnu Syafe’i, (Pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tanggal, 25 Juli 1998).
Ø Tarian Iblis (Gedung Marinir Cilandak), Darah dan Air Mata (Pada acara Peringatan 17 Agustus 1998, di Sawangan – Bogor), Krisis Pemuda (Pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat; tanggal 11 Juli 1999),
Ø Opera Kidung Merah Putih, Naskah dan Sutradara : Drs. Budi M. Thamrin, Pasukan Bodrex, Naskah : Heri Chadavi dan Sutradara : Irfansyah Sadri & Moh Fachri Farid (Pada acara Peringatan 17 Agustus 1999, di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat).

Sebagaimana tersurat dalam sejarah pendiriannya yaitu pada tanggal 10 Maret 1996 bahwa kelahiran SANGGAR UMMAT adalah salah satu wadah untuk berkegiatan, berkreasi, dan mengembangkan bakat bagi masyarakat Ciputat Timur khususnya dan masyarakat Kota Tangerang Selatan umumnya, khususnya di bidang Teater, Sastra/Puisi, Musik, Tarik Suara, dan lain sebagainya yang masih berkaitan dalam pengembangan dan pelestarian seni budaya. Dirintis sejak Tahun 1996 yang bernama Teater Bedug di bawah Naungan Ikatan Remaja Masjid Ar-Rahmah (IRMA) kala itu, Sanggar UMMAT akhirnya berkeinginan untuk mendirikan dalam sebuah wadah resmi yang Independen dan Mandiri dan kemudian tertuanglah ide dengan nama Sanggar UMMAT (Usaha Meningkatkan Mutu Akhlaq dan Taqwa).

Pada awal berdirinya Sanggar UMMAT di bawah binaan Surip Budiyono, S.Ag. seorang guru yang mengajar di MI Muhammadiyah Rempoa dan SMP Muhammadiyah 17 Ciputat, Sanggar UMMAT yang awal perintisannya hanya memiliki anggota yang berjumlah 10 orang hingga mencapai 35 orang. Sampai saat ini, Sanggar UMMAT telah mengalami 3 (tiga) kali pergantian kepengurusan, dan melahirkan banyak siswa dan siswi yang terdidik di bidang seni, baik teater, puisi, musik, maupun yang lainnya. Hingga saat ini, Sanggar UMMAT masih tetap eksis dan terus mengembangkan keahlian para anggotanya.


(SEPUTAR INFORMASI SENI BUDAYA)

I).  PENGERTIAN  SENI

Saat ini, dalam rangka peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh yang meliputi aspek moral, akhlak, budi pekerti, perilaku, pengetahuan, kesehatan, keterampilan dan seni yang dikembangkan melalui pembelajaran dan pelatihan, maka pemerintah telah mengadakan perbaikan sistem pendidikan nasional dengan cara  menyempurnakan kurikulum. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang- Undang  Sistem Pendidikan Nasional (2003) bahwa pendidikan adalah usaha sadar dalam rangka menyiapkan peserta didik untuk meningkatkan mutu disemua jenjang pendidikan. Mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran untuk masa yang akan datang. Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan pondasi bagi peserta didik dalam mengikuti pendidikan formal, wajib mengajarkan seluruh mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Termasuk mata pelajaran seni budaya dan keterampilan. Pendidikan seni, budaya dan keterampilan  diberikan di sekolah karena keunikan yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi atau berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni, belajar melalui seni, dan belajar tentang seni” (KTSP 2006).

Kata "seni" adalah  sebuah  kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kata seni berasal dari kata "sani" yang artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Dalam bahasa Inggris dengan istilah "ART" (artivisial) yang artinya adalah barang/atau karya dari sebuah kegiatan. Konsep seni terus berkembang sejalan dengan berkembangnya kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang dinamis. Beberapa pendapat tentang pengertian seni :
a. Ensiklopedia Indonesia : Seni adalah penciptaan benda atau segala hal yang karena keindahan bentuknya, orang senang melihat dan mendengar.
b. Aristoteles : seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu.
c. Ki Hajar Dewantara : seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya.
d. Akhdiat K. Mihardja : seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani sipenerimanya.
e. Erich Kahler : seni adalah suatu kegiatan manusia yang menjelajahi, menciptakan realitas itu dengan simbol atau kiasan tentang keutuhan “dunia kecil” yang mencerminkan “dunia besar”.

Cabang-cabang Seni :

Berdasarkan bentuk dan mediumnya seni dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok :
1   Seni Rupa : Benda, penglihatan, peraba, 2 dimensi atau 3 dimensi
2   Seni Sastra : Tulisan, penglihatan 2 dimensi
3   Seni Musik : Suara, benda, manusia, gerak, pendengaran, penglihatan waktu 3 dimensi proses
4   Seni Tari : Tubuh manusia, gerak, musik, penglihatan, pendengaran, waktu 3 dimensi
5   Seni Teater : Manusia, benda/alam, akting, adegan, suara/musik, penglihatan, pendengaran, waktu 3 dimensi.

Terdapat 5 ciri yang merupakan sifat dasar seni (The Liang Gie, 1976) yang meliputi :
a. Sifat kreatif dari seni. Seni merupakan suatu rangkaian kegiatan manusia yang selalu mencipta karya baru.
b. Sifat individualitas dari seni. Karya seni yang diciptakan oleh seorang seniman merupakan karya yang berciri personal, Subyektif dan individual.
c. Nilai ekspresi atau perasaan. Dalam mengapresiasi dan menilai suatu karya seni harus memakai kriteria atau ukuran perasaan estetis. Seniman mengekspresikan perasaan estetisnya ke dalam karya seninya lalu penikmat seni (apresiator) menghayati, memahami dan mengapresiasi karya tersebut dengan perasaannya.
d. Keabadian sebab seni dapat hidup sepanjang masa. Konsep karya seni yang dihasilkan oleh seorang seniman dan diapresiasi oleh masyarakat tidak dapat ditarik kembali atau terhapuskan oleh waktu.
e. Semesta atau universal sebab seni berkembang di seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Sejak jaman pra sejarah hingga jaman modern ini orang terus membuat karya seni dengan beragam fungsi dan wujudnya sesuai dengan perkembangan masyarakatnya.

II).  PENGERTIAN  NILAI  SENI.

Menurut (Purwadarminto, 1976), kata “nilai” diartikan sebagai harga, kadar, mutu atau kualitas. Untuk mempunyai nilai maka sesuatu harus memiliki sifat-sifat yang penting yang bermutu atau berguna dalam
kehidupan manusia. Dalam  estetika, “nilai” diartikan sebagai keberhargaan (worth) dan kebaikan (goodness). Menurut Koentjaraningrat,“nilai” berarti suatu ide yang paling baik, yang menjunjung tinggi dan menjadi pedoman manusia/masyarakat dalam bertingkah laku, mengapresiasi cinta, keindahan, keadilan, dan sebagainya. Nilai seni dipahami dalam pengertian kualitas yang terdapat dalam karya seni, baik kualitas yang bersifat kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Nilai-nilai yang dimiliki karya seni merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dihayati oleh seniman/seniwati dalam lingkungan sosial budaya masyarakat yang kemudian diekspresikan daam wujud karya seni dan dikomunikasikan kepada penikmatnya                  (publik seni).

III)  FUNGSI  DAN  TUJUAN  SENI.

a. Fungsi Religi/Keagamaan
Karya seni sebagi pesan religi atau keagamaan. Contoh : kaligrafi, busana muslim/muslimah, dan lagu-lagu rohani.
Seni yang digunakan untuk sebuah upacara yang berhubungan dengan upacara kelahiran, kematian, ataupun pernikahan. Contoh : Gamelan yang dimainkan pada upacara Ngaben di Bali yakni gamelan Luwang, Angklung, dan Gambang. Gamelan di Jawa Gamelan Kodhok Ngorek, Monggang, dan Ageng.
b. Fungsi Pendidikan
Seni sebagai media pendidikan misalnya musik. Contoh : Ansambel karena didalamnya terdapat kerjasama, Angklung dan Gamelan juga bernilai pendidikan dikarenakan kesenian tersebut mempunyai nilai sosial, kerjasama, dan disiplin.
Pelajaran menggunakan bantuan karya seni. Contoh : gambar ilustrasi buku pelajaran, film ilmiah atau dokumenter, poster, lagu anak-anak, alat peraga IPA.
c. Fungsi Komunikasi
Seni dapat digunakan sebagai alat komunikasi seperti pesan, kritik sosial, kebijakan, gagasan, dan memperkenalkan produk kepada masyarakat. Melalui media seni tertentu seperti, wayang kulit, wayang orang dan seni teater, dapat pula syair sebuah lagu yang mempunyai pesan, poster, drama komedi, dan reklame.
d. Fungsi Rekreasi/Hiburan
Seni yang berfungsi sebagai sarana melepas kejenuhan atau mengurangi kesedihan, sebuah pertunjukan khusus untuk berekspresi atau mengandung hiburan, kesenian yang tanpa dikaitkan dengan sebuah upacara ataupun dengan kesenian lain.
e. Fungsi Artistik
Seni yang berfungsi sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan karyanya tidak untuk hal yang komersial, misalnya terdapat pada musik kontemporer, tari kontemporer, dan seni rupa kontemporer, tidak bisa dinikmati pendengar/pengunjung, hanya bisa dinikmati para seniman dan komunitasnya.
f. Fungsi Guna (seni terapan)
Karya seni yang dibuat tanpa memperhitungkan kegunaannya kecuali sebagai media ekspresi disebut sebagai karya seni murni, sebaliknya jika dalam proses penciptaan seniman harus mempertimbangkan aspek kegunaan, hasil karya seni ini disebut seni guna atau seni terapan. Contoh : Kriya, karya seni yang dapat dipergunakan untuk perlengkapan/peralatan rumah tangga yang berasal dai gerabah dan rotan.
g. Fungsi Seni untuk Kesehatan (Terapi)
Pengobatan untuk penderita gangguan physic ataupun medis dapat distimulasi melalui terapi musik, jenis musik disesuaikan dengan latar belakang kehidupan pasien.

Terapi musik telah terbukti mampu digunakan untuk menyembuhkan penyandang autisme, gangguan  sikologis trauma pada suatu kejadian, dan lain-lain. Menurut Siegel (1999) menyatakan bahwa musik klasik menghasilkan gelombang alfa yang menenangkan yang dapat merangsang sistem limbic jarikan neuron otak. Menurut Gregorian bahwa gamelan dapat mempertajam pikiran.
Saat ini, dalam rangka peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh yang meliputi aspek moral, akhlak, budi pekerti, perilaku, pengetahuan, kesehatan, keterampilan dan seni yang dikembangkan melalui pembelajaran dan pelatihan, maka pemerintah telah mengadakan perbaikan sistem pendidikan nasional dengan cara  menyempurnakan kurikulum. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang- Undang  Sistem Pendidikan Nasional (2003) bahwa pendidikan adalah usaha sadar dalam rangka menyiapkan peserta didik untuk meningkatkan mutu disemua jenjang pendidikan. Mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran untuk masa yang akan datang. Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan pondasi bagi peserta didik dalam mengikuti pendidikan formal, wajib mengajarkan seluruh mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Termasuk mata pelajaran seni budaya dan keterampilan.

(KEISLAMAN  DAN  PSIKOLOGI)

I).   KEISTIMEWAAN ALQURAN
 
Kitab suci Al-Qur’an memiliki keistimewaan-keistimewaan yang dapat dibedakan dari kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya, diantaranya ialah :

Al-Qur’an memuat ringkasan dari ajaran-ajaran ketuhanan yang pernah dimuat kitab-kitab suci sebelumnya seperti Taurat, Zabur, Injil dan lain-lain. Juga ajaran-ajaran dari Tuhan yang berupa wasiat. Al-Qur’an juga mengokohkan perihal kebenaran yang pernah terkandung dalam kitab-kitab suci terdahulu yang berhubungan dengan peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa, beriman kepada para rasul, membenarkan adanya balasan pada hari akhir, keharusan menegakkan hak dan keadilan, berakhlak luhur serta berbudi mulia dan lainlain.

Allah Taala berfirman, “Kami menurunkan kitab Al-Qur’an kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya, untuk membenarkan dan menjaga kitab yang terdahulu sebelumnya. Maka dari itu, putuskanlah hukum di antara sesama mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah. Jangan engkau ikuti nafsu mereka yang membelokkan engkau dari kebenaran yang sudah datang padamu. Untuk masing-masing dari kamu semua Kami tetapkan aturan dan jalan.”.  (Q.S. Al-Maidah : 48)

Ajaran-ajaran yang termuat dalam Al-Qur’an adalah kalam Allah yang terakhir untuk memberikan petunjuk dan bimbingan yang benar kepada umat manusia, inilah yang dikehendaki oleh Allah Taala supaya tetap sepanjang masa, kekal untuk selama-lamanya. Maka dari itu jagalah kitab Al-Qur’an agar tidak dikotori oleh tangan-tangan yang hendak mengotori kesuciannya, hendak mengubah kemurniannya, hendak mengganti isi yang sebenarnya atau pun hendak menyusupkan sesuatu dari luar atau mengurangi kelengkapannya.

Kitab Suci Al-Qur’an yang dikehendaki oleh Allah Taala akan kekekalannya, tidak mungkin pada suatu hari nanti akan terjadi bahwa suatu ilmu pengetahuan akan mencapai titik hakikat yang bertentangan dengan hakikat yang tercantum di dalam ayat Al-Qur’an. Sebabnya tidak lain karena Al-Qur’an adalah firman Allah Taala, sedang keadaan yang terjadi di dalam alam semesta ini semuanya merupakan karya Allah Ta’ala pula. Dapat dipastikan bahwa firman dan amal perbuatan Allah tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Bahkan yang dapat terjadi ialah bahwa yang satu akan membenarkan yang lain.

Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an. Jadi apa yang ditemukan adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah swt. sendiri. Allah swt. berkehendak supaya kalimat-Nya disiarkan dan disampaikan kepada semua akal pikiran dan pendengaran, sehingga menjadi suatu kenyataan dan perbuatan. Kehendak semacam ini tidak mungkin berhasil,kecuali jika kalimat-kalimat itu sendiri benar-benar mudah diingat, dihafal serta dipahami. Oleh karena itu Al-Qur’an sengaja diturunkan oleh Allah Taala dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapa pun untuk memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat.

Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam surat Ali-Imran : 101
Artinya :
“Barang siapa yang berjuang tegak kepada agama Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Ali Imran : 101)

Disamping itu juga, orang yang bertaqwa mau berusaha meninggalkan larangan-Nya yang berbentuk kemungkaran dan kemaksiatan serta larangan-larangan lainnya. Dengan demikian jelas bahwa manusia hidup di dunia haruslah ber-Taqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan dan memenuhi kewajiban-Nya (beribadah kepada-Nya), sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT :
Artinya :
“Dan aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Adz-Dzariyat : 56)

Dimana dalam menjalankan kehidupannya selalu melangkah pada jalan “Ihdinasshirothal Mustaqiim” pada jalan yang lurus, baik, dan benar hingga kelak ia akan sampai ke surga. Namun bila salah melangkah dalam kehidupan, maka ia termasuk kedalam jalan yang sesat dan dipastikan mereka akan sampai ke neraka.

Wassalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu


II).   DAKWAH ISLAM MELALUI PACARAN

Dakwah Islam adalah salah satu bentuk media jihad yang terdapat di dalam agama Islam. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menyebarkan ilmu pengetahuan, menasehati sesama adalah beberapa aktivitas yang biasanya terdapat di dalam dakwah Islam.

Dakwah Islam adalah salah satu bentuk kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim, sebagaimana firman Allah swt berikut :
“Serulah (manusia) ke jalan Rabb-mu dengan hikmah1 dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. An Nahl (16) : 125

 “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar1, merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imron (3) : 104

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”. QS. Ali Imron (3) : 110

Lalu bagaimana kaitan antara dakwah Islam dengan pacaran? Ada segolongan orang yang mengatakan bahwa pacaran itu dilarang menurut pandangan Islam. Namun ada pula golongan yang mengatakan bahwa pacaran boleh-boleh saja asal nggak kebangetan. Bahkan, ada pula seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah yang akhirnya menggunakan pacaran sebagai media dakwah. Ia berpendapat bahwa dengan pacaran akan membuatnya lebih intensif dalam mendakwahi pasangannya. Benarkah demikian?

Memang larangan mengenai pacaran di dalam Islam tidak dibahas secara eksplisit. Mungkin itulah salah satu faktor yang mengakibatkan kebanyakan orang awam tidak dapat menerima atas hukum pelarangan pacaran ini. Namun, dalam dunia dakwah islam, larangan  pacaran adalah hal yang sudah sangat dimengerti, maka aneh sekali manakala ada seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah islam, namun ia tetap melakukan pacaran.

Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit, namun banyak sekali dalil yang dapat di jadikan sebagai rujukan untuk pelarangan pacaran tersebut. Telah sama-sama kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang MENDEKATI ZINA.

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra [17] : 32).

Lalu, apa saja perbuatan yang tergolong MENDEKATI ZINA itu? Diantaranya adalah : saling memandang, merajuk/manja, bersentuhan (berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dll), berdua-duaan, dll. Karena unsur-unsur ini dilarang dalam agama Islam, maka tentu saja hal-hal yang di dalamnya terdapat unsur tersebut adalah di larang. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits berikut :

Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat (dengan syahwat), zinanya lidah adalah mengucapkan (dengan syahwat), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat], maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya…” (HR Bukhari & Muslim)

Dalil di atas kemudian juga diperkuat lagi oleh beberapa hadits dan ayat Al Quran berikut:
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (Bukhori dan Muslim)

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan."  (HR. Ahmad).

“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HASAN, Thabrani dalam Mu`jam Kabir 20/174/386)
"Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu ?alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membai?at. Beliau tidak memba?iat mereka kecuali dengan mangatakan: "Saya ba?iat kalian." (HR. Bukhori)

"Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita." (HR Malik , Nasa?i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Kalau berbicara masalah “ingin berdakwah islam lebih intensif”, banyak cara lain yang dapat kita lakukan. Kalau ingin mendakwah islami orang, ya pilih yang ikhwan juga dong, jangan yang akhwat. Kalau yang akhwat, sampaikan saja kepada rekan akhwat kita, bereskan?. Lagipula, andaipun kita hendak melakukan dakwah Islam kepada seluruh perempuan yang ada di sekolah kita, di kampus kita, di kantor kita, atau di kampung kita…apakah lantas kita juga akan menjadikan mereka sebagai pacar kita semua?? Tidak masuk logikakan alasan semacam ini !.

Kalau lantas kita mengatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung kepada niatnya (Pacaran yang niatnya untuk dakwah islam). Eittt…tunggu dulu! Niat itu nggak berhenti sampai di situ aja. Niat itu harus diluruskan, LURUSKAN NIAT! Maksudnya adalah, niat untuk melakukan kebaikan ya harus dilakukan dengan cara yang lurus atau benar (sesuai dengan syariat), bukan dengan cara yang buruk atau dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kalau niat baik dilakukan dengan cara yang batil, itu namanya melenceng! Sama aja seperti ini, “apakah niat menyumbang ke Masjid itu diperbolehkan manakala uangnya diperoleh dari hasil merampok?”,

ya jelas aja ga boleh. Itu namanya mencampur adukkan antara yang hak dengan yang batil, dan Allah swt telah melarang hal tersebut, sebagaimana firman Allah yang artinya :

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui." (QS al-Baqarah [2] : 42).

Dari sini semakin jelas bahwa pacaran dilarang di dalam Islam. Dan tidak ada dakwah Islam yang dilakukan dengan metode pacaran, karena nanti jatuhnya bukan dakwah Islam lagi, melainkan MENDEKATI ZINA, dan Rasulullah saw pun tidak mencontohkan cara-cara yang demikian.

Dakwah islam Islam adalah perkara suci yang ditujukan hanya untuk Allah swt. Maka jalankanlah dengan cara-cara suci yang diridhoi oleh Allah swt, bukan dengan jalan batil yang justru akan menodai nama dakwah Islam dan menimbulkan murka Allah swt.
Wallahua’lam bishshowab

Fastabiqul Khoirot…
Wassalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu

III).  PENYEBAB UMUM GANGGUAN JIWA

Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara somato-psiko-sosial. Dalam mencari penyebab gangguan jiwa, maka ketiga unsur ini harus diperhatikan. Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang patologik dari unsur psike. Hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak terganggu. Sekali lagi, yang sakit dan menderita ialah manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya atau lingkungannya.

Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan dan konstitusi, umur dan sex, keadaan badaniah, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar amanusia, dan sebagainya. Tabel di bawah ini Taksiran kasar jumlah penderita beberapa jenis gangguan jiwa yang ada dalam satu tahun di Indonesia dengan penduduk 130 juta orang.

Psikosa fungsional                               : 520.000
Sindroma otak organik akut                 : 65.000
Sindroma otak organik menahun         : 130.000
Retradasi mental                                  : 2.600.000
Nerosa                                                : 6.500.000
Psikosomatik                                       : 6.500.000
Gangguan kepribadian                          : 1.300.000
Ketergantungan obat                            : 1.000          
: 17.616.000

Biarpun gejala umum atau gejala yang menonjol itu terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik), dilingkungan sosial (sosiogenik) ataupun dipsike (psikogenik). Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbullah gangguan badan ataupun jiwa. Umpamanya seorang dengan depresi, karena kurang makan dan tidur daya tahan badaniah seorang berkurang sehingga mengalami keradangan tenggorokan atau seorang dengan mania mendapat kecelakaan.

Sebaliknya seorang dengan penyakit badaniah umpamanya keradangan yang melemahkan, maka daya tahan psikologiknya pun menurun sehingga ia mungkin mengalami depresi. Sudah lama diketahui juga, bahwa penyakit pada otak sering mengakibatkan gangguan jiwa.

Contoh lain ialah seorang anak yang mengalami gangguan otak (karena kelahiran, keradangan dan sebagainya) kemudian menadi hiperkinetik dan sukar diasuh. Ia mempengaruhi lingkungannya, terutama orang tua dan anggota lain serumah. Mereka ini bereaksi terhadapnya dan mereka saling mempengaruhi.

Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :

1. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
1.1. Neroanatomi
1.2. Nerofisiologi
1.3. nerokimia
1.4. tingkat kematangan dan perkembangan organik
1.5. faktor-faktor pre dan peri – natal

2. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik) :
2.1. Interaksi ibu –anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan)
2.2. Peranan ayah
2.3. Persaingan antara saudara kandung
2.4. Inteligensi

Untuk mengetahui mana penyebab yang asli dan mana yang bukan perlu diketahui dua istilah : sebab yang memberikan predisposisi adalah faktor yang menyebabkan seseorang menjadi rentan/peka terhadap suatu gangguan jiwa (genetik, fisik atau latar belakang keluarga/ sosial. Sebab yang menimbulkan langsung atau pencetus adalah faktor traumatis langsung menyebabkan gangguan jiwa (kehilangan harta pekerjaan/ kematian, cendera berat, perceraian dan lain-lain.

PROSES PERJALANAN PENYAKIT ;

Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain :
1. Fase Prodomal
- Berlangsung antara 6 bula sampai 1 tahun
- Gangguan dapat berupa Self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan pikiran dan persepsi.
2. Fase Aktif
-  Berlangsung kurang lebih 1 bulan
- Gangguan dapat berupa gejala psikotik; Halusinasi, delusi, disorganisasi proses berfikir, gangguan bicara, gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi
3. Fase Residual
- Klien mengalami minimal 2 gejala; gangguan afek dan gangguan peran, serangan  biasanya berulang.

TAHAPAN HALUSINASI DAN DELUSI YANG BIASA MENYERTAI  GANGGUAN  JIWA

Menurut Janice Clack,1962 klien yang mengalami gangguan jiwa sebagian besar disertai Halusinasi dan Delusi yang meliputi beberapa tahapan antara lain :

1. Tahap Comforting :
Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasanya mengkompensasikan stressornya dengan coping imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar dari ancaman.
2. Tahap Condeming :
Timbul kecemasan moderate , cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien merasa
mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan sehingga timbul perilaku menarik diri (With drawl)
3. Tahap Controling :
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara tersebut terus menerus mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian/sedih.
4. Tahap Conquering :
Klien merasa panik , suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak diikuti perilaku klien dapat bersipat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.
----------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar: